Pantai Tete Tonra, Pantai Pasir Putih Yang Mempesona

Terletak di bagian Selatan Bone, sekitar 61 km dari pusat kota watampone, terdapat Pantai Tete Tonra, yakni Pantai Pasir Putih yang mempesona. Jika anda sedang berada di Kota Makassar, paculah kendaraan anda ke arah timur laut sejauh 175 km menjauhi pusat kota. Pantai ini dapat menjadi pilihan jika sedang mencari Tempat Wisata Di Bone Sulawesi Selatan yang bagus dengan biaya murah. Pantai Tete berlokasi di desa Bone Pute kecamatan Tonra, kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke pantai tersebut, anda harus melewati desa Gareccing sekitar 3 km dari jalan poros Bone Sinjai. Jika anda datang dari arah selatan, maka lewati desa Biccoing, dengan mengikuti papan petunjuk ke arah Pantai Tete, yang berada di sisi kanan jalan poros.

Selain tempat rekreasi, Pantai Tete juga merupakan pusat pelatihan bagi para prajurit baru TNI. Rangkaian prosesi latihan fisik hingga pengukuhan prajurit baru dilaksanakan di Pantai Tete. Bahkan tempat ini sering dijadikan simulasi perang, karena lokasinya yang dapat meng-cover semua marga, baik darat, laut maupun udara. Pada bulan-bulan tertentu, Pantai Tete akan diramaikan oleh prajurit-prajurit TNI AD. Mereka menggunakan Pantai Tete sebagai latihan rimba laut untuk para prajurit infateri yang sementara digodok di Dodiklatpur Bance’e Kodam VII / wirabuana. Hal ini wajar terjadi karena Pantai Tete merupakan camp pelatihan bagi prajurit angkatan darat.

Pantai Tete merupakan salah satu Tempat Bersejarah Di Bone Sulawesi Selatan. Menurut informasi warga sekitar, Pantai Tete pernah digunakan sebagai tempat mediasi antara pemberontak DI/TII dengan TNI pada tahun 1962. Kahar Muzakar selaku panglima DI/TII Sulawesi Selatan melakukan pertemuan dengan panglima kodam XIV Hasanuddin M. Yusuf. Pertemuan tersebut berisi  pernyataan dan penyerahan 1200 prajurit di bawah komando Kahar kepada M. Yusuf.

Fasilitas Pantai Tete belum dapat dikatakan lengkap, namun sudah tersedia kamar mandi, ruang ganti dan warung-warung penduduk. Di pantai ini juga terdapat barak-barak prajurit TNI yang hanya terisi pada saat masa pelatihan berlangsung.

Baca juga:  Relaksasi Alami di Pemandian Air Panas Hatuasa Ambon

Selain pasir putih yang mempesona, ada satu hal yang unik dari Pantai Tete. Pantai ini memiliki jalan yang dapat membelah lautan, kurang lebih sepanjang 1 km menuju ke sebuah pulau yang terdapat di sebelah timur pantai, yakni Pulau Bulu’ Betta’. Jalan tersebut terbentuk dari proses sedimentasi pasir akibat pertemuan arus air laut. Jalan ini hanya dapat kita lihat pada saat air laut sedang surut. Beberapa pengunjung bahkan menyebrang menggunakan kendaraan roda empat, hal ini dikarenakan lebar jalan tersebut bervariasi antara 3 meter hingga 5 meter.

Pengunjung yang ingin menyebrang tetap harus waspada membaca situasi pasang surut air laut. Menurut informasi warga sekitar, tidak sedikit korban tenggelam di jalan pasir tersebut. Hal itu disebabkan kelalaian mereka yang tidak bisa memperkirakan kapan air laut akan pasang. Mereka cenderung tidak sadar bahwa air laut sudah pasang ketika berada di Pulau Bulu’ Betta’, sehingga jalan penghubung antara pulau dan pantai mulai tertutup air laut, yang mengakibatkan mereka menerka nerka jalur jalan pasir yang berkelok-kelok. Tidak sedikit korban yang menempuh jalan yang salah dan berakhir tenggelam, karena menganggap bagian laut yang dalam adalah jalan pasir.

Adapun Rute Menuju Pantai Tete dapat diakses dengan mudah, menggunakan transportasi umum dari Kota Watampone menuju ke desa Gareccing, yakni sekitar 56 km. akan nampak sebuah plang di tepi jalan sebelah kiri yang akan menuntun anda menuju ke Pantai Tete sejauh 4 km. Adapun kondisi jalan cenderung berbukit akan tetapi sudah diaspal.

Sayangnya pemerintah setempat belum mengelola Pantai Tete dengan baik. Padahal pemasukan dari wisatawan lokal bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap tahunnya. Jalan menuju Pantai Tete dulunya rusak berat, namun sekarang sudah dilakukan perbaikan jalan. Pantai Tete biasa ramai pada hari sabtu minggu dan hari libur panjang. Sedangkan untuk hari-hari biasa cenderung sepi. Rata-rata pengunjung berasal dari masyarakat di sekitar kecamatan Tonra, bahkan tak jarang pengunjung berasal dari kota Watampone dan kabupaten Sinjai.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.