Belajar Sejarah Dan Budaya Kawasan Adat Ammatoa

Berwisata tak harus melulu ke tempat-tempat seperti pantai, gunung maupun wahana bermain. Agar liburanmu lebih bermakna dan bermanfaat kamu bisa berkunjung ke tempat wisata sejaran dan budaya. Nah, di Sulawesi Selatan ada salah satu kawasan adat yang bisa kamu kunjungi, yaitu Kawasan Adat Ammatoa.

Salah satu suku tertua yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan adalah Masyarakat Kajang Ammatoa, terletak di kecamatan Kajang, kabupaten Bulukumba. Desa Tanah Toa lahir karena ketidakteraturan yang terjadi pada masa lampau. Kajang Ammatoa saat ini diketuai oleh Ammatoa ke-22, yang mana Ammatoa tersebut bertanggung jawab dalam melestarikan budaya, agar adat dan tradisi dapat berjalan selaras dengan alam sakitar. Beberapa Ciri Khas Masyarakat Kajang Ammatoa, adalah:

Cara Berpakaian

Pakaian hitam adalah salah satu ciri khas yang dimiliki oleh Masyarakat kajang Ammatoa. Pakaian hitam tersebut identik dengan ilmu spiritual yang mereka miliki. Pakaian Adat Suku Kajang adalah pakaian yang berwarna hitam. Bahkan jika kita mengunjungi Kawasan Ammatoa harus menggunakan pakaian hitam.

Kekayaan Alam

Suku Kajang Ammatoa membagi 3 bagian untuk pengelolaan dan pemanfaatn hutan. Pembagian kawasan ini dikenal dengan istilah; Borong Karamuka yaitu hutan keramat, adalah kawasan hutan yang terlarang untuk semua jenis kegiatan, kecuali acara-acara ritual. Borong Batasayya yaitu hutan perbatasan, dengan ijin ammatoa selaku ketua adat, kawasan hutan ini boleh diambil kayunya selama persediaan masih ada. Borong Luara yaitu hutan rakyat, adalah hutan yang bisa dikelola oleh masyarakat. Apabila mengacu pada peraturan kementrian pertanian tentang klasifikasi pemanfaatan hutan, maka terdapat persamaan antara apa yang telah dijalankan Suku Kajang Ammatoa selama bertahun-tahun dengan konsep kearifan lingkungan.

Bahasa

Konjo adalah bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Suku Kajang Ammatoa. Bahasa Konjo merupakan salah satu rumpun Bahasa Makassar yang berkembang sendiri. Masyarakat Adat Tana Toa memegang teguh ajaran leluhur mereka, seperti pasanga ri kajang atau pesan di kajang, yang isinya adalah:

  1. Senantiasa ingat pada tuhan yang berkehendak
  2. Memupuk persatuan dan kesatuan dengan penuh kekeluargaan dan saling memuliakan.
  3. Bertindak tegas tetapi juga sabar dan tawakkal
  4. Harus taat terhadap aturan yang telah dibuat secara bersama-sama kendati harus menahan gelombang dan memecahkan batu gunung
  5. Melaksanakan segala aturan secara murni dan konsekuen.
Baca juga:  Tempat Wisata Di Malang Yang Murah Meriah

Dalam kehidupan sehari-hari, kelima ajaran ini menjadi pedoman masyarakat dan pemimpin Suku Kajang Ammatoa. Dari kelima pesan ini juga, lahirlah prinsip hidup sederhana dan saling menyayangi diantara mereka. Juga kasih sayang terhadap lingkungan mereka.

Nilai-Nilai Tradisi Pada Rumah, Tempat Tinggal Masyarakat Kajang Ammatoa

Masyarakat Suku Kajang lebih memilih di dalam rumah panggung yang berasal dari kayu, daripada membangun rumah berbahan batu bata. Menurut kepercayaan Masyarakat Suku Kajang, penghuni rumah yang tinggal di rumah batu bata, meskipun mereka hidup, mereka dianggap sudah meninggal karena dikelilingi oleh tanah. Sebuah pantangan bagi Suku Kajang untung membangun rumah menggunakan batu bata, karena batu bata berasal dari tanah yang dicetak kemudian dibakar. Proses untuk menghasilkan batu bata tersebut yang dianggap merusak hutan. Terdapat kebenaran atau rasionalitas kepercayaan Masyarakat Suku Kajang dalam melestarikan hutan adat, jika ditinjau dari aspek lingkungan.

Sistem kekerabatan masih mempengaruhi letak rumah. Anggota keluarga yang sudah berkeluarga maupun sudah merasa mandiri, lebih cenderung menetap di sekitar rumah keluarga inti. Aturan-aturan mengenai tata letak tidak lagi menjadi hal yang harus dipertimbangkan. Hal ini karena bergantung pada lahan kosong yang mereka miliki.

Gaya Hidup

Gaya hidup disini diartikan sebagai cara hidup yang diikuti oleh kelompok tertentu. Gaya hidup Ammatoa adalah sederhana (kemase-masea), seperti halnya aturan-aturan yang disebutkan dalam pasang ri kajang. Sehingga nantinya tingkah laku mereka selaras dengan ajaran pasang ri kajang. Menurut kepercayaan mereka, tidak perlu hidup berlebihan, karena  hanya akan menimbulkan konflik di antara masyarakat, yang kemudian akan menghasilkan ketidak harmonisan dalam masyarakat tersebut. Gaya hidup yang sederhana ini tercermin dalam segala hal, mulai dari berpakaian, berkomunikasi, cara menyambut tamu, hingga pada bentuk hunian mereka.

Itu dia ulasan singkat mengenai kawasan adat Ammatoa. Jika kamu pecinta sejarah dan pegiat budaya kearifkan lokal, tempat ini wajib kamu kunjungi. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.