7 Hal Unik Tentang Kota Kelelawar Di Sulawesi Selatan

Kabupaten Soppeng adalah salah satu kabupaten di Provinsi Selawesi Selatan, dengan ibukotanya yang bernama Watan Soppeng. Dengan jarak sekitar 150 km di sebelah utara Kota Makassar. Terdapat 3 jalur darat menuju Kabupaten Soppeng, yakni: Bulu Dua Barru, Camba Maros dan Pare-Pare, butuh waktu sekitar 4-5 jam perjalanan menuju kabupaten tersebut. Daerah Soppeng memiliki hawa yang cukup sejuk, karena sebagian besar daerahnya merupakan dataran tinggi dan perbukitan. Soppeng memiliki keunikan tersendiri, yaitu: terdapat begitu banyak kelelawar yang menetap di kota ini.

  1. Bukan Kelelawar Biasa

Lazimnya, kelelawar atau kalong dapat ditemukan di hutan lebat atau goa yang minim sinar matahari. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di Kabupaten Soppeng. Ribuan hewan nokturnal tersebut berkeliaran di pusat kota, tepatnya bergelantungan di pohon asam. Sekelompok Kalong Soppeng nampak menguasai pohon-pohon asam tanpa merasa terganggu oleh lalu lalang kendaraan dan sibuknya kota. Tak heran jika Soppeng mendapat sebutan sebagai Kota Kalong.

  1. Tidak Mengganggu Kebun Warga

Kota Soppeng diramaikan oleh suara kelelawar pada sore hari. Para hewan giat malam tersebut baru bangun dan bersiap untuk melakukan aktifitas pada malam hari. Anda akan melihatnya beterbangan dengan latar matahari terbenam, dengan warna jingga yang indah. Uniknya jika diperhatikan secara seksama, di sepanjang kota tersebut tidak ada buah-buahan yang dimakan kelelawar. Bahkan pohon asam yang menjadi tempat tinggal kelelawar, tetap utuh dengan buahnya seperti tidak ada yang menyentuh sama sekali.

Ada sebuah legenda yang dipercaya masyarakat Soppeng tentang kelelawar yang memenuhi pusat kota. Ratusan tahun lalu, kelelawar telah berjanji kepada raja untuk tidak menganggu masyarakat, termasuk memakan buah-buahan milik warga yang ada di kota tersebut. Terdapat beberapa penjanjian antara kalong dan raja, diantaranya: tidak boleh mengambil buah-buahan di sekitar ataupun milik rakyat, kelelawar tersebut boleh berdiam di kota Soppeng tetapi hanya di pohon asam.

  1. Mitos Jodoh

Terdapat sebuah mitos yang menyebutkan, bahwa: pendatang atau wisatawan yang terkena kotoran kelelawar, ketika berada di sekitar pohon asam dipercaya akan mendapat jodoh orang Soppeng. Hal tersebut memang jarang terjadi, akan tetapi masyarakat sekitar meyakini adanya mitos tersebut.

  1. Penanda Musibah
Baca juga:  Tempat Wisata di Gowa 2018 yang Wajib Anda Kunjungi

Legenda Soppeng lainnya menyebutkan bahwa raja meminta kalong untuk memberi tahu rakyat melalui tanda tanda alam yang mereka isyaratkan jika akan terjadi bencana, musibah, atau sesuatu yang menuntut rakyat untuk bersiap-siap. Perjanjian ini kerap diwujudkan dengan menghilangnya hewan nokturnal tersebut minimal 24 jam dari tempat tinggalnya.

Menurut Cerita Rakyat Soppeng, pernah terjadi sejumlah pohon yang biasanya dipadati oleh kelelawar pada siang hari mendadak sepi. Tepatnya sehari sebelum dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah terhadap anggota DPRD Kabupaten Soppeng periode 2001-2009. Selanjutnya, warga dibuat terkejut dengan berita adanya anggota DPRD yang sedang dilantik mendadak pingsan dan menghembuskan napas terakhir.

  1. Merupakan Spesies Yang Dlindungi

Kehadiran para kelelawar di jantung kota begitu berarti bagi masyarakat Soppeng. Mereka meyakini bahwa hewan nokturnal tersebut merupakan penjaga daerah Soppeng. Beberapa warga percaya bahwa mereka merupakan pasukan pengawal kerajaan yang berwujud kelelawar. Sehingga kumpulan kelelawar tersebut dilindungi oleh masyarakat setempat.

  1. Alarm Alami Di Pagi Hari

Kumpulan kelelawar berterbangan mencari makanan di pegunungan pada saat maghrib maupun malam hari. Menjelang matahari terbit di ufuk timur seiring dengan bergemanya suara adzan subuh, kelelawar ini kembali ke pohon pohon asam dengan suara khas yang berisik, layaknya alarm alami di pagi hari yang membangunkan warganya untuk segera memulai aktifitas.

  1. Mitos dikencingi kelelawar

Ratusan tahun yang lalu, kalong ini sudah ada sejak Raja Soppeng Pertama, yakni Raja Latemmamala. Dari sebelumnya, kalong ini sudah memenuhi kota Soppeng, kemudian ketika raja berkuasa, keluarlah perjanjian antara raja dan kalong. Mitos lainnya yang masih diyakini masyarakat Soppeng adalah bila seseorang dikencingi oleh kelelawar yang ada di kota tersebut, maka orang tersebut akan meninggal. Bukan berarti nasib dan takdir masyarakat Soppeng ditentukan oleh kelelawar. Akan tetapi kejadian tersebut merupakan salah satu cara alam memberi kabar dan pertanda takdir dari yang maha kuasa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.